PMI Manufaktur Naik, Surabaya Diharapkan Makin Menarik Investor

Perkembangan positif PMI manufaktur Indonesia menjadi momentum bagi Surabaya untuk menarik investasi baru dan memperkuat sektor industri pengolahan.

PMI Manufaktur Naik, Surabaya Diharapkan Makin Menarik Investor
Foto: Dok. Istimewa

Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni, mengapresiasi kenaikan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang mencapai 54,0 pada Oktober 2026, naik dari 52,4 pada bulan sebelumnya. Angka ini menunjukkan penguatan aktivitas manufaktur nasional.

Fathoni menilai momentum ini sangat penting bagi Surabaya untuk meningkatkan peluang investasi dan memperkuat sektor industri pengolahan. Ia berharap penguatan industri nasional ini dapat membuka pintu bagi investasi baru di Kota Pahlawan. “Sebagai pimpinan DPRD, saya mengapresiasi perkembangan positif tersebut. Mudah-mudahan momentum ini bisa dimanfaatkan Surabaya untuk membuka peluang investasi baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Fathoni, Kamis (5/11/2026).

Menurut Fathoni, Surabaya memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam perkembangan industri nasional. Hal ini didukung oleh iklim investasi yang kondusif dan penguatan sektor-sektor produktif. Industri pengolahan sendiri masih menjadi salah satu pilar perekonomian Surabaya, berkontribusi sebesar 19,59 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Surabaya pada 2025, menjadikannya sektor terbesar kedua setelah perdagangan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya menunjukkan bahwa industri pengolahan mencatat pertumbuhan 7,85 persen pada 2025, melampaui pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya secara keseluruhan yang sebesar 5,87 persen. Pertumbuhan ini menunjukkan vitalitas sektor industri di kota tersebut.

Iklim Investasi Jadi Modal Perkuat Daya Tarik Ekonomi

Realisasi investasi di Surabaya hingga semester I 2026 telah mencapai Rp 23,608 triliun, atau 53 persen dari target tahunan Rp 44,26 triliun. Angka ini berasal dari 68.840 proyek yang tersebar di berbagai sektor.

Fathoni menekankan bahwa capaian investasi ini menunjukkan tingginya aktivitas ekonomi di Surabaya dan menjadi modal penting untuk memperkuat daya tarik ekonomi kota. Namun, ia juga mengingatkan pentingnya kualitas penanaman modal yang memberikan nilai tambah signifikan bagi perekonomian daerah.

Dampak penting lainnya adalah penciptaan lapangan kerja. Fathoni berharap investasi yang masuk tidak hanya meningkatkan aktivitas usaha, tetapi juga membuka kesempatan kerja yang lebih luas bagi tenaga kerja lokal. Data Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Surabaya mencatat penempatan 5.120 tenaga kerja baru hingga Juli 2026, mendekati target tahunan 8.838 orang.

Oleh karena itu, penguatan investasi harus dibarengi dengan kesiapan sumber daya manusia. Kebutuhan tenaga kerja industri perlu diselaraskan dengan pendidikan vokasi, pelatihan keterampilan, dan peningkatan kompetensi agar masyarakat lokal dapat memenuhi tuntutan dunia usaha.

Apresiasi Kinerja Kementerian Perindustrian

Fathoni juga menyoroti pentingnya memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal, termasuk UMKM, dalam rantai pasok perusahaan. Keterlibatan UMKM dalam penyediaan barang dan jasa pendukung, serta sektor distribusi dan logistik, dapat memperluas manfaat ekonomi dari masuknya investasi.

Ia menambahkan bahwa iklim investasi yang kondusif, termasuk kepastian perizinan, kemudahan berusaha, dan dukungan infrastruktur, menjadi faktor krusial dalam menarik investor. Hal ini akan meningkatkan daya saing Surabaya.

Sebagai informasi, laporan S&P Global pada Senin (2/11/2026) menyebutkan PMI manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 berada di zona ekspansi, jauh di atas ambang batas 50 poin. Fathoni mengaitkan penguatan ini dengan peningkatan aktivitas produksi, permintaan baru, serta kinerja positif Kementerian Perindustrian.

“Ini sekaligus mencerminkan perkembangan positif sektor manufaktur nasional. Di tengah momentum tersebut, Kementerian Perindustrian di bawah kepemimpinan Menteri Perindustrian M Sarmuji terus memegang peran strategis dalam mendorong penguatan struktur industri, memperluas investasi, serta meningkatkan daya saing manufaktur Indonesia,” ucapnya.

Fathoni berharap momentum pertumbuhan industri nasional ini dapat terus dijaga dan memberikan dampak positif yang lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing industri. Ia menegaskan bahwa Surabaya harus mampu menangkap peluang ini dengan memperkuat iklim investasi dan daya saing ekonomi daerah agar semakin banyak investasi yang masuk dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *