Jakarta – Kapten CPN (Anm.) Nurhafiz Akbar Riski Hartio adalah satu dari prajurit yang gugur dalam kecelakaan helikopter Mi-17 saat menjalankan operasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Ayah Kapten Nurhafiz, Muharto (63), menceritakan momen pamitan putranya yang terjadi sehari setelah ulang tahun.
“Waktu itu pamit kan ini anak saya kan habis ulang tahun tanggal 27 Oktober, besoknya itu dapat surat tugas kemudian video call pamit dia,” kata Muharto kepada wartawan usai pemakaman di Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Giri Tunggal Semarang, Kamis (5/11/2026).
Muharto kemudian melepas kepergian putranya untuk bertugas dengan pesan agar menjaga keselamatan. “Selamat jalan, selamat bertugas di sana, hati-hati. setiap saat itu saya juga berpesan supaya menjalankan tugas ini safety, terus SOP diterapkan gitu. Jadi untuk keselamatan kerja diutamakan gitu, pesan saya gitu,” ujarnya.
Putra sulungnya itu menjawab pesan tersebut dengan sigap. “Itu jawabannya ‘siap iya, aman,’ gitu,” tambah Muharto.
Kapten Nurhafiz merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ia mengawali karier di TNI AD dari Dikmaba PK pada tahun 2011. Berkat prestasinya, ia mengikuti Diksarbang yang membawanya naik pangkat menjadi perwira, hingga mencapai Lettu dan kemudian menyandang pangkat Anumerta.
“Ya ini anak kebanggaan saya. Anak yang pertama dia tiga bersaudara, dia masuk angkatan darat itu tahun 2011. Alhamdulillah beliaunya ini ikut Diksarbang jadi dapat peningkatan pangkat jadi perwira. Sampai saat ini mencapai Lettu dan kemudian dapat pangkat Anumerta,” terang Muharto.
Komentar