JAKARTA – Tentara Nasional Indonesia (TNI) telah mengerahkan sejumlah besar prajurit ke wilayah Jakarta guna memperkuat sistem pengamanan. Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto, memberikan penjelasan mengenai tujuan strategis di balik pengerahan pasukan tersebut ke Ibu Kota.
Menurut Jenderal Agus, dalam internal TNI, pengerahan pasukan ini dikenal dengan istilah “siaga”. Istilah ini digunakan sebagai bagian dari upaya mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari berbagai potensi ancaman yang mungkin timbul.
Agus merinci bahwa ancaman yang diantisipasi terbagi menjadi dua kategori utama: ancaman dari faktor alam dan ancaman yang berasal dari aktivitas manusia. Ancaman buatan manusia ini mencakup berbagai bentuk seperti potensi konflik sosial, aksi terorisme, radikalisme, hingga gerakan makar.
Lebih lanjut, Panglima TNI menjelaskan bahwa terdapat beberapa tingkatan kesiapsiagaan yang diterapkan dalam menghadapi kedua jenis ancaman tersebut, yang terbagi dalam status Siaga 1 hingga Siaga 3. Meskipun ia tidak merinci status siaga spesifik untuk Jakarta, ia memberikan gambaran umum mengenai tahapan kesiapsiagaan, terutama terkait antisipasi bencana alam.
“Siaga 3, situasinya dalam keadaan aman. Personel dan alutsista stand by di satuan masing-masing, prajurit melaksanakan kegiatan rutin latihan di dalam satuan, serta sudah diberlakukan aturan bahwa prajurit tidak boleh keluar kesatriaan,” ujar Agus.
Ia melanjutkan, “Siaga 2, situasinya sudah waspada. Personel dan alutsista dengan kekuatan setengah sampai 3/4 kekuatan sudah masuk ke pos masing-masing, dan personel tidak boleh keluar kesatriaan.”
Sementara itu, untuk tingkat Siaga 1, Agus menjelaskan, “situasinya eskalasinya meningkat. Personel dan alutsista sudah disiagakan penuh dan masuk ke pos masing-masing, serta tentunya prajurit tidak boleh keluar kesatriaan.”
Komentar