Jakarta – Stigma negatif sebagai ‘Kampung Narkoba’ yang melekat pada Kota Bambu Selatan, Palmerah, Jakarta Barat, atau yang akrab disapa Kampung Boncos, telah menyulitkan warganya dalam mencari pekerjaan. Selama bertahun-tahun, label kelam ini menghambat kesempatan hidup yang lebih baik bagi masyarakat setempat.
Kampung Boncos, bersama dengan Kampung Ambon dan Kampung Bahari, telah lama dikenal sebagai pusat peredaran narkoba. Meskipun aparat kepolisian sering melakukan penindakan, para bandar dan pengedar narkoba tetap nekat menjalankan aktivitas ilegal mereka.
Dampak dari stigma ini dirasakan langsung oleh warga saat mencoba mencari nafkah. Banyak warga mengaku mengalami penolakan halus dari perusahaan ketika alamat domisili di Kartu Tanda Penduduk (KTP) mereka tertera sebagai kawasan Kampung Boncos. Prasangka bahwa warga Boncos identik dengan barang haram seolah menutup pintu kesempatan, padahal sebagian besar dari mereka tidak terlibat dan hanya ingin mencari pekerjaan yang halal.
Menyadari persoalan ini, Polda Metro Jaya melalui program Kapolri ‘Kampung Bersih Narkoba’ atau Bersinar, bersama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, berupaya menata kembali kehidupan sosial di Kampung Boncos. Melalui dialog langsung dengan warga, petugas kepolisian memetakan berbagai kebutuhan lingkungan, mulai dari sanitasi, penerangan jalan, pengelolaan sampah, hingga persoalan keamanan dan ketertiban.
Informasi yang terkumpul akan dievaluasi dan dikoordinasikan dengan pemerintah daerah serta pihak terkait untuk ditindaklanjuti sesuai kebutuhan dan kewenangan masing-masing. Selain pendataan, kegiatan ini juga dilengkapi dengan pelayanan kesehatan yang diberikan secara langsung ke rumah-rumah warga.
Stigma ‘Kampung Narkoba’ Hambat Warga Cari Kerja
Kesulitan mencari pekerjaan akibat stigma ‘Kampung Narkoba’ diungkapkan oleh salah satu warga bernama Ira saat ditemui Wakapolda Metro Jaya Irjen Pol. Adex Yudiswan pada Rabu (4/11/2026). Dalam dialog tersebut, Adex menanyakan kondisi, kesulitan, dan masalah yang dihadapi warga, terutama terkait citra Kampung Boncos sebagai sarang narkoba.
“Kalau mau cari kerja susah nggak pakai domisili sini?” tanya Adex kepada Ira. “Iya susah, Pak (kalau pakai domisili sini),” jawab Ira. Ia menambahkan bahwa untuk mengurus dokumen lamaran kerja, ia terpaksa menggunakan domisili lain.
Wakapolda Metro Jaya Irjen Pol. Adex Yudiswan berdialog dengan warga di Kampung Boncos, Jakarta Barat, Rabu (4/11/2026). (Foto: Taufiq Syarifudin/detikcom)
Polda Metro Data 400 KK Butuh Pekerjaan
Hasil pendataan yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya mencatat ada sekitar 400 kepala keluarga (KK) di Kampung Boncos yang membutuhkan pekerjaan. Dengan data ini, Polda Metro Jaya bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta akan mengupayakan pencarian lapangan pekerjaan bagi warga.
“Kalau mereka misalnya butuh pekerjaan, kita identifikasi. Satu rumah itu berapa orang yang sudah kerja, berapa orang yang belum? Mereka sudah mempunyai kemampuan atau kompetensi tidak? Kalau belum, kita undang nanti dari BLK untuk sama-sama melatihkan mereka,” jelas Adex. Ia menambahkan bahwa pendataan dilakukan secara door to door untuk menggali kebutuhan masyarakat dan kendala yang dihadapi.
“Ini ingin menggali sebenarnya kebutuhannya itu apa sih dari masyarakat? Kendalanya apa sih? Kenapa ini terus berlanjut permasalahannya? Ya? Itu untuk pelayanan publik. Kita hadir di sini untuk melayani, mengetahui kebutuhannya,” tegas Adex saat apel di lokasi.
Pemulihan Citra Kampung Narkoba Menjadi Kampung Bersinar
Pendataan ini merupakan bagian dari upaya mengubah citra Kampung Boncos dari ‘Kampung Narkoba’ menjadi Kampung Bersinar (Bersih Narkoba).
“Kita konteksnya Pak Kapolri menginginkan bahwa ini diubah menjadi Kampung Bersinar, Kampung Bersih Narkoba,” ujar Adex. Ia menekankan bahwa penjualan dan penggunaan narkoba hanyalah ‘puncak gunung es’ dari permasalahan yang lebih dalam di kampung tersebut.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Budi Hermanto menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan komitmen kepolisian untuk lebih dekat dengan masyarakat melalui pendekatan humanis. Polisi ingin mendengar langsung persoalan warga dan membangun kolaborasi untuk mencari solusi.
“Melalui semangat Polisi Bersama Masyarakat dan Kerja Melayani Jakarta, kami ingin memastikan kehadiran polisi tidak hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga mendengar, memahami, dan membantu menjembatani kebutuhan masyarakat dengan pihak yang berwenang. Apa yang disampaikan warga menjadi masukan penting agar langkah pelayanan dan penanganan yang dilakukan benar-benar tepat sasaran serta memberikan manfaat nyata,” kata Budi Hermanto.
Komentar