Seruyan – Pratu Gilang Ramadan, salah satu kru yang selamat dari jatuhnya helikopter MI-17 milik Penerbangan TNI Angkatan Darat di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, menceritakan kondisi sebelum insiden tersebut terjadi. Ia menyebutkan bahwa angin kencang tiba-tiba menerpa helikopter yang sedang menjalankan misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurut penuturan Gilang, hembusan angin kencang tersebut menyebabkan helikopter kehilangan kendali. “Waktu itu tiba-tiba ada angin, terus kita kehilangan kontrol,” ungkap Gilang di RSUD Kuala Pembuang, dilansir dari detikKalimantan, Kamis (5/11/2026).
Pratu Gilang mengaku tidak sepenuhnya memahami seluruh rangkaian kejadian hingga helikopter akhirnya terjatuh. Ia sempat kehilangan kesadaran dan baru tersadar saat proses evakuasi sedang berlangsung. Insiden ini meninggalkan pengalaman traumatis baginya, di mana ia sempat mengalami syok dan demam pasca kecelakaan tersebut.
Kondisi Gilang berangsur membaik. Saat ditemui di rumah sakit, ia masih menggunakan kursi roda untuk mobilitas menuju ambulans. Ia dijadwalkan akan diberangkatkan bersama korban lainnya ke Banjarmasin untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Gilang menyatakan rasa syukurnya atas keselamatan yang diberikan, meskipun masih merasakan pusing di bagian kepala.
“Untuk kondisi kemarin sempat syok. Sempat syok, sempat demam. Alhamdulillah ini cuma paling pusing di kepala,” tuturnya.
Komentar