Australia Bantu Padamkan Karhutla di Kaltim dengan Water Bombing

BNPB bersama tim Australia mengerahkan metode water bombing untuk memadamkan titik api karhutla di Kalimantan Timur, operasi berlangsung selama tujuh hari.

Australia Bantu Padamkan Karhutla di Kaltim dengan Water Bombing
Foto: Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi ketika konferensi pers dan Duta Besar Australia untuk Indonesia Roderick Brazier hadir dalam penyerahan bantuan helikopter dari Australia. (Muchamad Sholihin/detikcom

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggandeng tim teknis dari New South Wales Rural Fire Service (NSW RFS) Australia untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim). Operasi pemadaman difokuskan menggunakan metode water bombing atau pengeboman air, menyusul masih terdeteksinya sejumlah titik api di wilayah tersebut.

Pemberangkatan pesawat Hercules C-130 dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Kamis (5/11/2026) menandai dimulainya kolaborasi ini. Pemilihan Kaltim sebagai lokasi prioritas didasarkan pada pengamatan dan diskusi mendalam antara tim teknis Indonesia dan Australia.

Berdasarkan data pantauan BNPB, Kaltim masih menunjukkan konsentrasi titik api yang signifikan. Pada hari yang sama, jumlah titik api di Kaltim menempati urutan kedua terbanyak, hanya kalah dari Kalimantan Tengah. Situasi ini selaras dengan laporan harian Direktorat Koordinasi Operasi BNPB per 4 November 2026 pukul 18.00 WIB, yang mencatat peningkatan luas lahan dalam penanganan di Kalimantan Timur sebesar 53 persen.

Kepala BNPB, Letjen TNI Kristomei Sianturi, menyatakan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi wilayah-wilayah yang memerlukan intervensi pemadaman melalui udara. “Hasil pengamatan dan observasi kita serta diskusi dengan tim teknis Australia, di wilayah Kalimantan Timur masih terdapat banyak titik api,” ujar Kristomei.

Kristomei menambahkan bahwa pemilihan pesawat Hercules C-130 didasarkan pada kapasitas angkut airnya yang mencapai 15.000 liter. Kapasitas ini diharapkan mampu mendukung efektivitas operasi pemadaman. “Jadi sehari itu bisa sampai 100.000 liter nanti kita untuk dropping di memang wilayah yang sudah kita petakan yang masih membutuhkan untuk water bombing atau untuk pemadaman apinya,” jelasnya.

BNPB dan tim NSW RFS Australia telah merampungkan pembahasan teknis untuk menentukan area prioritas pemadaman. Pelepasan armada udara ini dihadiri langsung oleh Kepala BNPB, jajaran pimpinan tinggi BNPB, serta Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Bruce Brazier, beserta timnya.

Atas nama Pemerintah Indonesia, Kristomei menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Australia atas dukungannya dalam penanganan karhutla. Bantuan ini melengkapi upaya pemadaman yang telah dilakukan melalui operasi darat dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Kolaborasi ini diharapkan dapat mengakselerasi pemadaman titik api sekaligus memperkuat hubungan saling membantu antara Indonesia dan Australia dalam mitigasi bencana. Operasi udara ini direncanakan berlangsung selama tujuh hari, mulai 6 hingga 12 November 2026. Australia mengerahkan dua pesawat dan 20 personel spesialis penerbangan dari NSW RFS, termasuk pesawat pemandu Cessna Citation.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *