Pramono Anung Siap Benahi Tanah Abang: Atasi Premanisme hingga Obat Ilegal

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung merencanakan pembenahan menyeluruh di kawasan Tanah Abang, menargetkan masalah parkir liar, premanisme, hingga peredaran obat terlarang.

Pramono Anung Siap Benahi Tanah Abang: Atasi Premanisme hingga Obat Ilegal
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Camat Tanah Abang Dwiarti Indriati Utami di Kantor Kecamatan Tanah Abang, Kamis (5/11/2026). (Brigitta Belia Permata Sari/detikcom)

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan kesiapannya untuk melakukan pembenahan menyeluruh di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Fokus utama pembenahan ini mencakup berbagai persoalan yang selama ini meresahkan, mulai dari parkir liar, praktik premanisme, hingga peredaran obat-obatan terlarang.

Pernyataan ini disampaikan oleh Pramono Anung setelah memimpin rapat koordinasi bersama jajaran Pemerintah Kota Jakarta Pusat dan Kecamatan Tanah Abang yang berlangsung di Kantor Kecamatan Tanah Abang pada Kamis, 5 November 2026. Rapat tersebut membahas langkah-langkah strategis untuk menata salah satu pusat perbelanjaan tersibuk di ibu kota.

Menurut Pramono, proses penataan akan dilaksanakan secara bertahap dengan melibatkan partisipasi aktif dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD). Instansi yang dilibatkan antara lain Dinas Perhubungan, Satpol PP, PD Pasar Jaya, dan PT Sarana Jaya. Koordinasi pelaksanaan program ini akan berada di bawah pengawasan Asisten Pemerintahan Sekda DKI Jakarta.

“Dalam rapat juga disetujui untuk penataan kawasan Tanah Abang, baik itu Blok A, B, C, D, E, F, hal yang berkaitan dengan parkir liar, hal yang berkaitan dengan premanisme, penjualan obat-obatan, dan sebagainya,” ujar Pramono seusai rapat.

Pramono Anung menekankan pentingnya pendekatan yang tidak represif dalam pelaksanaan penataan. Ia menegaskan bahwa upaya penataan tidak boleh dilakukan secara berlebihan hingga merugikan masyarakat, khususnya para pedagang yang menggantungkan hidupnya di kawasan Tanah Abang. “Karena saya meyakini kalau dilakukan dengan kekerasan ataupun dengan tindakan yang berlebihan, tapi tidak disiapkan untuk para pedagang atau masyarakat itu tetap bisa mencari periuk nasinya, pasti akan kembali lagi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa penataan harus dilakukan secara bertahap untuk memastikan aktivitas perekonomian masyarakat tetap berjalan lancar. Pramono juga secara spesifik menyoroti persoalan parkir di kawasan tersebut. “Saya nggak mau parkirnya di lantai 10. Siapa mau jalan-jalan sampai dengan lantai 10 hanya untuk parkir? Tetapi kita tata secara gradual yang paling penting adalah kehidupannya mulai berjalan dengan baik dan juga masyarakat itu tidak kehilangan periuk nasinya,” tuturnya.

Sebagai pembelajaran, Pramono Anung mencontohkan keberhasilan penataan di kawasan Kramat Jati. Saat itu, para pedagang diberikan fasilitas tempat berjualan di area lobi secara gratis selama enam bulan. “Belajar dari penyelesaian yang ada di Kramat Jati ketika dimasukkan ke lobi, diberikan gratis selama 6 bulan dan sebagainya, itu salah satu contoh cara menyelesaikan yang ada,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Camat Tanah Abang Dwiarti Indriati Utami menyatakan bahwa penataan kawasan akan dilakukan secara menyeluruh dengan mengidentifikasi akar permasalahan yang selama ini terjadi, termasuk praktik premanisme. “Nantinya itu akan dipersiapkan dulu sarana prasarananya, nanti baru kita akan punya pola untuk bisa merangkul atau menggandeng yang bersangkutan untuk bisa ikut dalam program-program Pemprov DKI,” kata Dwiarti.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *