Lonjakan jumlah pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) di wilayah Jabodetabek semakin terasa, terutama saat jam sibuk. Kondisi ini kerap kali menyebabkan penumpang harus berdesakan di dalam gerbong, memicu beragam respons dan celetukan dari para penumpang yang akrab disapa “anak kereta” (anker).
Elsa (26), seorang penumpang KRL lintas Bekasi (Blue Line), mengaku sering mendengar ucapan spontan atau “asal bunyi” (asbun) dari penumpang lain ketika kereta penuh sesak. Celetukan tersebut biasanya muncul terkait perebutan naik atau turun, sindiran soal tidak memberikan tempat duduk kepada penumpang prioritas, hingga pura-pura tertidur untuk menghindari kewajiban memberi tempat duduk.
“Biasanya kalau jam-jam sibuk gitu kan rame banget ya. Udah gitu juga sering ya apa, banyak yang asal ngomong gitu, pada ngomel, malah yang lebih sering sih nggak mau ngalah tempat duduk ya, sama orang tua, banyak yang pura-pura tidur juga,” ujar Elsa di Stasiun Tanah Abang, Jumat (6/11/2026).
Elsa juga menceritakan pengalamannya menghadapi penumpang yang cenderung “asal nyelonong” dan situasi terdorong-mendorong yang tak terhindarkan di dalam gerbong yang padat. “Banyak yang asal nyelonong, kayak, ‘jangan didorong-dorong ih, kegencet’ gitu kan, namanya juga kan rame gitu kan, ada panas juga kayak gitu kan rame banget. Palingan itu aja sih, sama apalagi kalau lagi berdiri, kita suka didorong, gitu loh, kan jangan dekat-dekat gitu,” katanya.
Beberapa celetukan lain yang sering terdengar, menurut Elsa, adalah keluhan fisik. “Iya, ‘jangan dorong-dorong, kalau nggak keluar aja deh kalau nggak muat’ atau ‘bisa geser-geseran nggak sih? Badannya bau’. Sering kan gitu namanya juga pulang kerja kan capek ya, tapi seringnya sih pada nggak mau kalah juga sih, kayak gitu ya,” ungkapnya.
Sementara itu, Anisa (20), penumpang lain, menggambarkan suasana di gerbong wanita yang menurutnya lebih “apa adanya”. Ia pernah menyaksikan kondisi gerbong wanita yang sudah sangat penuh namun masih ada penumpang yang memaksa masuk, hingga akhirnya meminta tolong karena terjepit.
“Jadi waktu itu sempet kan heboh di gerbong cewek karena udah penuh banget, terus ada yang maksa. Terus yang paling belakang ngomonglah, ‘tolong-tolong kejepit’ gitu,” ujarnya.
Anisa mengaku dirinya tipe penumpang yang lebih memilih diam saat berdesakan, meski terkadang menggerutu dalam hati. “Kalau aku sih tipe yang diam aja ya, diam sambil ngerutu dalam hati,” pungkasnya.
Kondisi berdesakan dan gesekan antarpenumpang KRL ini terkadang dapat memicu ketegangan, bahkan keributan. Sebelumnya, dua penumpang dilaporkan terlibat adu jotos di Stasiun Duri akibat senggolan pada Rabu (4/11) sore.
Menyikapi situasi ini, KAI Commuter mengimbau seluruh pengguna KRL untuk senantiasa mengutamakan keselamatan, tidak membuat kegaduhan, serta saling menghormati antarpenumpang lainnya.
Komentar