BerandaSPPGSPPG Cihideung Udik 2 Ciampea Klarifikasi Keluhan Bau Makanan, Akui Kendala pada...

SPPG Cihideung Udik 2 Ciampea Klarifikasi Keluhan Bau Makanan, Akui Kendala pada Proses Pengemasan

CIAMPEA || Majalahnusantara.id – Rabu 18 Maret 2026 — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogor Ciampea Cihideung Udik 2 yang dikelola oleh Yayasan Anagata Bangun Bangsa memberikan klarifikasi atas keluhan sejumlah wali murid terkait bau pada makanan yang didistribusikan ke sekolah-sekolah penerima manfaat.
Kepala Dapur SPPG, Panji, menjelaskan bahwa program pemenuhan gizi tersebut menjangkau lintas desa di wilayah Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Total penerima manfaat mencakup sekitar 10 sekolah dari jenjang SD hingga SMA/SMK.
Menurutnya, bahan baku yang digunakan, khususnya ayam, telah dipastikan dalam kondisi segar dan melalui proses pengecekan kualitas sebelum diolah.
“Bahan baku ayam yang kami terima dalam kondisi segar, baru dipotong, dan telah kami cek dari segi bau maupun tekstur,” ujarnya.
Panji menegaskan bahwa bau yang sempat dikeluhkan bukan berasal dari bahan baku maupun bumbu, melainkan disebabkan oleh proses pengemasan makanan yang dilakukan saat masih dalam kondisi panas.
“Karena dikejar waktu produksi dalam jumlah besar, makanan langsung dikemas dalam keadaan panas dan tertutup rapat. Uap panas yang terperangkap itulah yang kemudian memicu aroma kurang sedap,” jelasnya.
Ia menambahkan, distribusi makanan dibagi ke dalam dua jenis porsi, yakni porsi kecil dan porsi besar. Berdasarkan evaluasi sementara, keluhan hanya muncul pada porsi besar yang didistribusikan pada siang hari, sementara porsi kecil tidak mengalami kendala.
Sebagai langkah cepat penanganan, pihak SPPG telah berkoordinasi dengan sekolah untuk menarik kembali porsi makanan yang terindikasi bermasalah. Sekolah juga diimbau untuk mengingatkan siswa dan wali murid agar tidak mengonsumsi makanan apabila ditemukan kejanggalan, baik dari segi bau maupun tekstur.
Terkait menu yang didistribusikan, Panji menjelaskan bahwa ayam ungkep yang diberikan termasuk kategori makanan setengah jadi atau “kering”, yang masih memerlukan proses pemanasan atau pengolahan lanjutan sebelum dikonsumsi.
“Memang terdapat perbedaan pemahaman di masyarakat. Kami mengacu pada standar bahwa makanan kering adalah produk yang masih perlu diolah kembali sebelum dikonsumsi,” katanya.
Atas kejadian ini, pihak SPPG mengakui adanya kekurangan dalam proses pengelolaan, terutama dalam aspek pengemasan yang dilakukan secara terburu-buru. Hal tersebut, kata Panji, akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh ke depan.
“Kami menjadikan ini sebagai pelajaran penting agar ke depan proses produksi dan distribusi dapat berjalan lebih optimal dan tidak menimbulkan keluhan serupa,” tegasnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab, SPPG telah menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah dan wali murid. Selain itu, kompensasi berupa susu 1 liter akan diberikan kepada para penerima manfaat yang terdampak.
Dengan adanya klarifikasi ini, diharapkan masyarakat dapat memahami duduk persoalan yang terjadi serta tetap mendukung program pemenuhan gizi bagi pelajar yang tengah berjalan di wilayah Ciampea.(Ade)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read

Related News