Ciomas, – Majalahnusantara.id – Warga Desa Parakan, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, memprotes penutupan akses jalan lingkungan yang selama ini digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Jalan tersebut ditutup oleh pengembang Kawasan Perumahan Kebun Raya (KBRI) tanpa adanya sosialisasi yang dinilai memadai kepada warga terdampak.
Sejumlah warga menyatakan penutupan dilakukan secara tiba-tiba. Padahal, jalan tersebut menjadi akses utama menuju tempat kerja, sekolah, dan pasar.
“Jalan ini sudah lama kami gunakan. Penutupan dilakukan mendadak dengan alasan sudah ada koordinasi, padahal warga tidak pernah diajak musyawarah,” kata seorang warga, Jumat (30/1/2026).
Pihak pengembang KBRI menyatakan penutupan akses jalan telah melalui koordinasi dengan pengurus RW setempat. Namun, pernyataan tersebut dibantah warga. Mereka mengaku tidak pernah menerima pemberitahuan resmi maupun dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
Pengurus RW setempat membenarkan adanya komunikasi awal antara pengembang dan pihak lingkungan. Namun, koordinasi tersebut disebut bersifat terbatas.
“Memang ada komunikasi, tetapi hanya sebatas Surat Perintah Kerja (SPK). Belum ada kesepakatan tertulis dan belum melibatkan persetujuan warga secara menyeluruh,” ujar perwakilan RW.
Penutupan akses tersebut berdampak langsung pada mobilitas warga. Mereka harus memutar dengan jarak lebih jauh, yang dinilai memberatkan, khususnya bagi lansia dan anak-anak. Warga juga menilai penutupan jalan berpotensi menghilangkan akses publik yang selama ini dimanfaatkan bersama.
Dalam proses mediasi yang berlangsung di lokasi, pihak pengembang disebut tetap menolak memberikan akses jalan lingkungan untuk dilalui kendaraan roda dua. Sikap tersebut memicu ketegangan antara warga dan pihak pengembang.
Sementara itu, Pemerintah Desa Parakan diminta berperan lebih aktif dalam menyelesaikan persoalan tersebut.
Sejumlah warga menilai pemerintah desa belum mengambil langkah tegas untuk memastikan kepentingan masyarakat terlindungi.
Hingga berita ini diturunkan, belum tercapai kesepakatan antara warga dan pengembang terkait pembukaan kembali akses jalan maupun solusi alternatif yang dapat diterima kedua belah pihak.(Ade)