BerandaSPPGFJP2 Soroti MBG B3 di Pasir Kuda Distribusi 3 Hari Diduga Tak...

FJP2 Soroti MBG B3 di Pasir Kuda Distribusi 3 Hari Diduga Tak Sesuai Standar Gizi.

Kota Bogor – Majalahnusantara.id – Rabu, 25/02/2026 – Forum Jurnalis Peduli Publik (FJP2) Bogor Raya menyoroti pelaksanaan Program Makanan Bergizi (MBG) bagi ibu menyusui yang diduga tidak memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan.
Sorotan ini mencuat setelah pendistribusian MBG selama tiga hari, pada 23–25 Februari 2026, menuai keluhan dari sejumlah penerima manfaat. Distribusi dilakukan melalui Dapur Pasirkuda untuk kebutuhan konsumsi tiga hari sekaligus.
Namun, paket makanan yang diterima dinilai belum mencerminkan komposisi gizi seimbang sesuai kebutuhan ibu menyusui.

Ade Suhendar Ketua FJP2 Bogor Raya menegaskan, program intervensi gizi bagi kelompok rentan tidak boleh dilaksanakan secara asal-asalan.
“Ibu menyusui membutuhkan asupan kalori tambahan, protein berkualitas, zat besi, kalsium, vitamin, dan mineral yang lebih tinggi. Jika kualitas dan kelengkapan menu tidak sesuai standar, maka tujuan program berisiko tidak tercapai,” ujarnya.
Minim Protein Hewani dan Variasi Menu
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah penerima manfaat mengaku menu yang diterima kurang variatif serta minim sumber protein hewani. Padahal, kecukupan protein—terutama dari telur, daging, ayam, atau ikan—menjadi komponen penting dalam menunjang produksi ASI dan pemulihan kondisi ibu pascamelahirkan.
Program MBG sejatinya dirancang untuk mendukung kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi, sekaligus menjadi bagian dari strategi pencegahan stunting. Karena itu, setiap paket makanan seharusnya memenuhi prinsip gizi seimbang, higienitas, serta ketepatan takaran sesuai standar teknis.
Jika Tak Sesuai Standar, Pengelola Harus Dievaluasi
FJP2 menegaskan, apabila pengelola dapur MBG untuk penerima kategori B3 (ibu menyusui) terbukti tidak memenuhi standar komposisi gizi, kualitas bahan pangan, hingga prosedur distribusi, maka perlu dilakukan evaluasi menyeluruh.
Pengelolaan dapur program publik wajib mengacu pada standar operasional prosedur (SOP), termasuk:
Perencanaan menu berbasis kebutuhan kalori ibu menyusui
Pengawasan kualitas bahan baku
Proses pengolahan yang higienis
Distribusi tepat waktu dan aman konsumsi.
Jika ditemukan pelanggaran atau kelalaian, instansi terkait diminta tidak ragu melakukan pembinaan, perbaikan sistem, hingga peninjauan ulang kerja sama dengan pengelola dapur.
Transparansi dan Pengawasan Jadi Kunci
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pengelola Dapur Pasirkuda maupun instansi terkait mengenai standar teknis yang digunakan dalam distribusi 23–25 Februari 2026 tersebut.
FJP2 Bogor Raya mendesak adanya audit kualitas dan evaluasi terbuka agar MBG untuk ibu menyusui benar-benar tepat sasaran, sesuai standar kesehatan, serta berdampak nyata terhadap upaya pencegahan stunting.
Masyarakat berharap program strategis ini tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi benar-benar menghadirkan manfaat optimal bagi kesehatan ibu dan generasi masa depan.(Ade)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read

Related News